Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

I. Pada Sore Yang Gaduh, Ia Tenang

Terlalu sibuk mengejar kesempurnaan membuat puan itu lupa bahwa masih ada orang-orang yang mau menerima ketidaksempurnaan dirinya.

Dan tanpa sadar, secara perlahan,
ia melepas mereka—kehilangan.

Pikiran puan itu begitu gaduh, ia kebingungan, mengapa ini bisa terjadi?

Ia melihat pantulan dirinya di cermin, bertanya.
"Sebenarnya apa yang salah? Aku hanya ingin memiliki kehidupan seperti orang-orang pada umumnya. Berkulit putih, tubuh langsing, penampilan menarik. Apa yang salah dengan itu semua? Aku hanya ingin..."

Ia terdiam sejenak. Menyadari satu hal penting.

Ia mulai menangis, merutuki dirinya yang terlampau dibutakan oleh kesempurnaan. Masih dengan air mata yang mengalir di kedua pipi gempalnya, ia kembali memandangi pantulan dirinya di cermin.

"Diterima. Aku hanya ingin diterima."

Ini semua tentang penerimaan. Ia benci berbeda dari kebanyakan orang. Tidak, pada awalnya ia tidak merasa demikian. Ia selalu mencintai segala kelebihan dan kekurangan yang dimilikiny…

Postingan Terbaru

Mengukur Kebahagiaan Seseorang

Yang Ikut Hilang Seiring Beranjak Dewasa

Tidak Tahu Harus Memulai Dari Mana

Jikalau Dilahirkan Kembali

Kebahagiaan Kita Bukan Tanggung Jawab Mereka