Postingan

Kami Sadar, Jadi Tutup Mulut Kalian

Gambar
" You're really unique and sing very well, but you're fat and not pretty . Bastards. However, these words became a big turning point in my life. That day, I ran home crying and lay in front of my computer and was bawling. When I suddenly wanted to see a concert video that I downloaded before. So I turned that video on, and watched it continously, crying all night. Soon, I found myself promising this: If I don't fit into this generation's standard of beauty, then I will have to become a different standard ." - MAMAMOO's Hwasa Sebenernya gue udah bikin list topik yang mau gue bahas dari lama, termasuk topik body shaming ini. Tapi karena satu dan lain hal, gue baru bisa nulis sekarang. Itu pun karena tweet salah satu influencer/selebgram tentang body shaming yang berhasil bikin banyak orang ke-triggered (termasuk gue). Gue gamau bahas lebih jauh tentang influencer tersebut, karena yang mau gue bahas di sini adalah pengalaman gue sendiri. Hidup sebagai orang d

Mengukur Kebahagiaan Seseorang

Belum lama ini gue menjumpai tiga orang yang beranggapan bahwa orang gemuk artinya mereka bahagia dan berlaku sebaliknya, kurus berarti tidak bahagia. Ketiganya laki-laki. Dua di antaranya gue denger secara langsung, sedangkan satu orang lainnya gue denger dari cerita temen gue. Meski udah dikasih tau bahwa itu nggak sepenuhnya benar, mereka tetep kekeuh dengan pandangan tersebut. Jujur gue gregetan, tapi mau gimana pun, itu hak mereka untuk berpendapat. Lagipula mau dipatahin argumennya berapa kali juga gaakan pengaruh, karena udah tertanam di otak mereka begitu. Jadi yang bisa gue lakuin cuma meracau sendirian kayak gini, deh. Sedih. Menurut pandangan gue, mereka bisa punya pemikiran kayak gitu mungkin karena sejauh ini orang-orang bertubuh gemuk yang mereka jumpai selalu 'terlihat' nggak punya masalah dan bahagia, sedangkan orang-orang bertubuh kurus selalu 'terlihat' punya banyak masalah serta beban yang harus ditanggung sehingga hidupnya tidak bahagia. Padahal,

Yang Ikut Hilang Seiring Beranjak Dewasa

Kalau baca dari judulnya, terkesan kayak umur gue setidaknya udah menginjak kepala dua nggak sih? Padahal mah pas nulis ini umur gue baru 17 tahun 9 bulan. Nggak setua itu emang, tapi bisa dibilang gue sedang dalam fase beranjak dewasa ini. Pandangan gue juga mulai berubah terhadap beberapa hal. Karena penasaran, beberapa hari yang lalu gue iseng nanyain pertanyaan ini ke temen-temen gue: "Apa yang ikut hilang seiring kalian beranjak dewasa?" Berikut beberapa jawaban dari mereka: Dulu sangat meng-idolize orang tua sendiri. Tapi sadar kalo semua orang punya kelebihan dan kekurangan. Gue sendiri dulu pengen punya pasangan yang sifatnya kayak ayah gue. Bagi gue, beliau itu baik banget. Suka tiba-tiba beliin gue makanan kalau gue lagi ngambek, hampir semua kemauan gue beliau turuti, dan lain sebagainya. Tapi seiring gue tumbuh, gue mulai melihat sisi yang nggak gue sukai dari ayah gue. Gue sempet merasa kecewa karena ternyata sosok yang gue kagumi itu nggak sepenuhnya sesua

Tidak Tahu Harus Memulai dari Mana

Kamis, 17 Oktober 2019. aku benar-benar butuh tempat untuk bicara. kutelpon ibu, tidak diangkat. satu panggilan lagi, berhasil. "kenapa?"  tidak kujawab, hanya isak tangis. "kamu kenapa?" masih tidak kujawab. aku ingin, namun hanya isak tangis. pada akhirnya aku tidak pernah bisa menceritakan semua hal yang membuatku sesak. bebanku, semuanya. tidak tahu harus memulainya dari mana. tidak ada yang bisa kuceritakan. bahkan aku saja tidak paham, mengapa aku sering kali merasa tidak karuan? depresi? tidak. aku tidak berani bilang. bagian dari pubertas? tidak. dari awal tidak pernah sesederhana itu. terlalu kompleks untuk disebut demikian. jadi, apa? persetan dengan itu semua, aku (masih) ingin hidup. doakan aku, semoga aku mampu. Tulisan di atas gue tulis berdasarkan apa yang gue alamin di bulan Oktober tahun lalu. Mungkin beberapa dari kalian ada yang udah pernah baca, karena sebelumnya ema

Jikalau Dilahirkan Kembali

Kalau ditanya, jikalau dilahirkan kembali, ingin jadi apa? Jelas, tetep jadi manusia. Mungkin jadi hewan akan terdengar lebih baik, tapi ga semua hewan hidupnya enak. Ambil contoh gampangnya, kucing. Kalau kita dilahirin jadi kucing peliharaan yang disayang pemiliknya sih, enak. Gaperlu pusing mikirin makan apa hari ini karna udah disediain, buang air dibersihin, dielus-elus, dijadiin temen ngobrol. Coba jadi kucing liar, apa ga mikirin strategi ngambil ikan di rumah orang? Belum lagi kalau manusianya barbar, bisa-bisa disiram air dan diusir dengan cara apapun biar ga balik lagi ke rumah itu. Hujan, kedinginan. Sakit, gaada yang ngurus. Masih beruntung kalau ada orang baik yang sudi ngerawat. Kalau enggak? Mati pun sendirian. Eh tapi pernah baca, kalau kucing mau mati mereka justru menyendiri dan sembunyi biar gaada yang tau. Sedih banget, ga sih? Kalau jadi sayuran? Bayangin aja, lo adalah sawi. Ditanem untuk dikonsumsi. Akan ada saatnya lo direbus bareng mie instan atau dimasak

Kebahagiaan Kita Bukan Tanggung Jawab Mereka

Dari dulu dengan bangganya gue selalu mikir, "Ah, bahagia banget gue punya temen kayak dia/mereka." "Bahagia banget gue punya temen yang baik." "Bahagia banget gue punya temen yang pengertian." "Bahagia banget gue blablablabla..." Sepanjang yang gue inget, gue hampir selalu bahagia dengan orang lain yang menjadi alasannya. Secara ga langsung, gue udah menggantungkan kebahagiaan gue pada mereka. Emang kenapa? Apa yang salah dengan itu? Toh, yang penting bahagia 'kan? Iya, bener. Asal gue bahagia. Sampe akhirnya suatu hari ada kejadian yang seakan-akan 'nampar' gue untuk sadar menghadapi kenyataan. Waktu itu, gue lagi patah hati banget. Bukan karena cinta, tapi karena impian yang dari dulu gue harapin terancam pupus. Ditambah, ayah gue sakit. Gue bener-bener kacau malam itu. Karena butuh tempat untuk cerita, gue pun ngeluarin semua keluh kesah dan kegalauan gue ke grup yang isinya temen-temen deket gue. Grup kecil. Ada seorang teme