Perjalanan Menuju Akhir
Kali ini akan benar-benar jadi yang terakhir, katamu, kataku. Kita menyepakati. Kalimat demi kalimat saling bersautan lewat sambungan telepon yang menjadi saksi bisu malam panjang itu. Diucapkan dengan suara yang setengah mati dipaksa agar tidak terdengar gemetar. Agar lawan bicara di seberang telepon tidak menyadari tangisan yang berusaha ditahan. Padahal, keduanya hanya berpura-pura tidak tahu. Setelah ini tidak perlu saling mengabari, tidak usah saling mencari maupun peduli lagi. Kalau rindu, ingin tahu, masih sayang, ditahan saja. Walau rasanya benar-benar menyiksa, tahan saja. Setidak tahan apapun, tahan saja. Tapi, sebelum hari itu tiba, mari menjalani hari-hari seperti biasanya. Kalau bisa, dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sebelum bab terakhir dari cerita yang rumit ini benar-benar ditutup. Sebelum tidak ada lagi kesempatan untuk menjadi 'kita' di antara kamu dan aku. Adalah sebuah kesempatan besar untuk benar-benar mengakhiri semuanya dengan tidak berada di kota ...