Sebuah Dinding Bernama Gengsi
— Aku tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun kepada ayahku. Rasanya terlalu malu dan gengsi untuk mengatakannya. Aku juga tidak terbiasa untuk mengucapkan tiga kata paling krusial: tolong , maaf , dan terima kasih , kepada keluargaku. Bahkan, setiap Idul Fitri aku hanya menyalimi mereka. Aku juga pernah melihat mamaku menangis ketika sedang sholat beberapa kali. Rasanya sangat ingin memeluknya, tetapi karena tidak terbiasa, aku hanya berpura-pura memainkan ponselku sambil melihat beliau menangis diam-diam. Entah sejak kapan gengsiku menjadi setinggi ini terhadap keluargaku, terutama ayahku. Padahal, waktu kecil aku cenderung lebih dekat dengan ayahku. Beliau lah yang mengajariku menggambar dan menyuapiku sambil aku bermain dengan teman-teman. Tahun 2019 lalu, akhirnya aku memberanikan diri membelikan Al-Qur’an berukuran cukup besar sebagai hadiah ulang tahun untuk ayahku. Karena masih merasa gengsi, aku hanya meletakannya di atas lemari agar ayahku melihatnya kee...