Postingan

Menampilkan postingan dengan label Keluarga

Sebuah Dinding Bernama Gengsi

Gambar
— Aku tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun kepada ayahku. Rasanya terlalu malu dan gengsi untuk mengatakannya. Aku juga tidak terbiasa untuk mengucapkan tiga kata paling krusial: tolong , maaf , dan terima kasih , kepada keluargaku. Bahkan, setiap Idul Fitri aku hanya menyalimi mereka. Aku juga pernah melihat mamaku menangis ketika sedang sholat beberapa kali. Rasanya sangat ingin memeluknya, tetapi karena tidak terbiasa, aku hanya berpura-pura memainkan ponselku sambil melihat beliau menangis diam-diam. Entah sejak kapan gengsiku menjadi setinggi ini terhadap keluargaku, terutama ayahku. Padahal, waktu kecil aku cenderung lebih dekat dengan ayahku. Beliau lah yang mengajariku menggambar dan menyuapiku sambil aku bermain dengan teman-teman.  Tahun 2019 lalu, akhirnya aku memberanikan diri membelikan Al-Qur’an berukuran cukup besar sebagai hadiah ulang tahun untuk ayahku. Karena masih merasa gengsi, aku hanya meletakannya di atas lemari agar ayahku melihatnya kee...

Kenangan dari Masa Kecil: yang Patah Tumbuh

Gambar
— Tidak banyak kenangan yang aku ingat dari masa TK, tetapi ada satu kejadian yang tidak akan pernah bisa kulupakan. Waktu kegiatan belajar sedang berlangsung, ada satu orang tetanggaku yang tiba-tiba datang ke kelas. Setelah tetanggaku tersebut berbicara sebentar dengan guru yang sedang mengajar, aku dipanggil dan diminta untuk merapikan alat tulis. Aku harus pulang. Ayah mengalami kecelakaan, katanya. Aku diantar ke tempat Ayah dirawat. Di sana sudah ada Mama yang tengah duduk di samping Ayah dengan mata sembabnya. Ayah tersenyum padaku dengan gigi depannya yang patah. Saat itu aku tidak mengerti, mengapa aku malah merasa sedih melihat senyum beliau hari itu? Kemudian aku tahu bahwa kaki Ayah patah tulang. Aku tidak pernah melihat Ayah terbaring lemah seperti itu sebelumnya. Dadaku rasanya sesak. Aku sangat ingin menangis, namun tidak kulakukan. Aku yang saat itu masih berusia enam tahun berusaha menahan air mataku agar tidak jatuh karena tidak mau keduanya melihatku ...

Tidak Tahu Harus Memulai dari Mana

Gambar
— Kamis, 17 Oktober 2019. Aku benar-benar butuh tempat untuk bicara. Kutelpon ibu, tidak diangkat. Satu panggilan lagi, berhasil. “Kenapa?” Tidak kujawab, hanya isak tangis. “Kamu kenapa?” Masih tidak kujawab. Aku ingin, namun hanya isak tangis. Pada akhirnya aku tidak pernah bisa menceritakan semua hal yang membuatku sesak. Bebanku, semuanya. Tidak tahu harus memulainya dari mana. Tidak ada yang bisa kuceritakan. Bahkan aku saja tidak paham, mengapa aku sering kali merasa tidak karuan? Depresi? Tidak. Aku tidak berani bilang. Bagian dari pubertas? Tidak. Dari awal tidak pernah sesederhana itu. Terlalu kompleks untuk disebut demikian. Jadi, apa? Persetan dengan itu semua, aku (masih) ingin hidup. Doakan aku, semoga aku mampu. Tulisan di atas kutulis berdasarkan apa yang kualami pada bulan Oktober 2019. Saat itu hari Kamis sekitar pukul dua siang, kelasku sedang tidak ada guru yang mengajar. Aku mendapatkan ‘undangan’ untuk mendatangi ru...