Kebahagiaan Kita Bukan Tanggung Jawab Mereka

Dari dulu dengan bangganya aku selalu berpikir:

“Ah, betapa bahagianya aku memiliki teman seperti mereka.”

“Betapa bahagianya aku memiliki teman yang baik.”

“Betapa bahagianya aku memiliki teman yang pengertian.”

“Betapa bahagianya aku blablabla.”

Sepanjang ingatanku, aku hampir selalu bahagia dengan orang lain yang menjadi alasannya. Secara tidak langsung, aku telah menggantungkan kebahagiaanku kepada mereka. Memangnya kenapa? Apa yang salah dengan itu? Toh, yang penting aku bahagia, kan?

Iya, benar. Asal aku bahagia. Sampai akhirnya suatu hari ada kejadian yang seakan-akan menamparku untuk tersadar menghadapi kenyataan.

Saat itu, aku tengah patah hati. Bukan karena cinta, melainkan karena impian yang sejak dulu aku harapkan terancam pupus. Ditambah, Ayah sakit. Aku benar-benar kacau malam itu. Karena butuh tempat untuk bercerita, aku pun mengeluarkan semua keluh-kesah dan kegelisahanku ke sebuah grup obrolan kecil yang beranggotakan teman-teman dekatku. Ada seorang temanku yang telah membaca, namun dia sama sekali tidak memberikan tanggapan apapun terhadap ceritaku itu. Aku menerka-nerka, mungkin dia sedang mengetik panjang untuk membalasku? Atau mungkin dia sedang berpikir karena bingung harus bagaimana menanggapiku? Tidak. Bahkan sampai berjam-jam kemudian pun dia tetap tidak memberikan tanggapan apapun. Aku yang sedang dalam perasaan kurang baik merasa tidak dipedulikan dan akhirnya mengajukan pertanyaan yang terbilang cukup offensive, “(Nama), apakah gue koran?”

Temanku pun membalas. Ia bilang, dirinya sedang tidak bisa menanggapiku dan menjelaskan alasannya. Tetapi kalimat setelahnya yang dia kirimkan benar-benar membuatku sakit hati dan kecewa.

“Lagi butuh yang senang-senang dulu. Sorry,” tulisnya.

Butuh yang senang? Jadi, aku hanya diperbolehkan menceritakan hal-hal bahagia saja dan memendam semua hal menyedihkan, begitu?

Saat itu yang ada di pikiranku, bagaimana caranya agar aku bisa menenangkan diriku terlebih dahulu. Aku tidak ingin emosi menguasaiku dan membuatku bertindak bodoh yang bisa merusak hubungan pertemananku dengannya. Setelah merasa lebih tenang, aku memutuskan untuk berterus terang kepada temanku itu. Dengan bahasa yang baik-baik dan tanpa capslock, aku berkata jujur bahwa aku sempat merasa sakit hati lantaran ucapannya tadi. Tapi aku sadar, memang bukan tanggung jawab dia untuk menghiburku. Ditambah, kupikir dia juga sedang memiliki masalah karena tidak biasanya dia seperti ini. Melihat tanggapanku itu, dia pun lantas meminta maaf padaku berkali-kali. Dia menjelaskan bahwa dirinya memang sedang memiliki masalah dan menyesal telah berbicara seperti itu padaku. Aku bisa merasakan ketulusannya dan kami pun berbaikan. Rasanya ikatan pertemanan kami menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

Dari kejadian itu, aku kembali membenahi apa yang selama ini sudah terlanjur tertanam di pikiranku. Memang tidak ada yang salah dengan menjadikan orang lain sebagai alasanku bahagia, tetapi yang salah adalah menggantungkan kebahagiaan itu pada mereka. Mereka juga memiliki kehidupannya sendiri. Aku tidak bisa serta-merta menuntut mereka untuk menghiburku di kala diriku sedih karena aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang mereka hadapi. Bisa jadi mereka juga sedang memiliki masalah, sedang stress, dan aku dengan tidak tahu apa-apanya marah karena mereka tidak bisa menanggapi kesedihanku? Terdengar egois, bukan? Dan juga, jika kita terlalu berharap atau menggantungkan kebahagiaan pada orang lain, maka kita akan lebih rentan kecewa. 

Tetapi, bukankah dunia rasanya akan menjadi tempat yang lebih baik jika kita bisa saling menyemangati terlepas dari beban apa yang sedang kita pikul?

Bagaimanapun juga, semoga kita semua bisa menjadi alasan diri kita bahagia, ya. Tanpa bergantung dengan orang lain. We deserve to be happy.

Komentar

  1. I love thisss and the message it consists. I wish you eternal happiness❤

    BalasHapus
  2. Makasih ya, Din, udah buat tulisan ini. Gw jadi sadar kalo mulai sekarang gw harus cari kebahagiaan gw sendiri. Apalagi selama masa karantina ini, udah lebih dari sebulan ga ke temu temen-temen yang selalu sukses bikin gw tersenyum & merasa dicintai. Sampe rasanya mau gila karena ngerasa “ga dicintai” lagi. Walaupun ga punya temen yang super sangat deket banget sekali, gw tetep aja ngerasa sumber cinta & bahagia gw itu tergantung sama temen. Tapi ternyata, yang berkewajiban mencintai & membahagiakan diri ini ya.. diri gw sendiri. Seringnya kita berharap agar orang lain selalu menghibur kita, selalu ada buat kita, selalu sesuai ekspektasi kita. Nyatanya, harapan-harapan itu cuma mengantarkan kita ke depan pintu gerbang kekecewaan. Lagi-lagi, untuk ke-10384729118 kalinya kita kecewa karena terlalu berharap pada manusia. Perkataan Ali bin Abi Thalib memang benar adanya, “Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.”

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget, jatohnya kita jadi terlalu nuntut orang lain untuk selalu sesuai sama apa yang kita harapin. padahal, kita sendiri pun gasuka diperlakuin kayak gitu. gue baru tau perkataan ali bin abi thalib yang itu, suka. dan makasih udah baca❣️

      Hapus
  3. Balasan
    1. mau nanya, remaja masjid cemput masih ada kegiatan ga ditengah pandemi gini? anw, terimaksyi sudah mampir walaupun aq suruh🖤

      Hapus
  4. Gara-gara lo gue jadi kemotivasi buat nulis di blog. Tulisan lo bikin gue sadar kalo gue pernah ada di posisi yang kadang nguntungin gue dan temen gue dan di posisi yang cuma nguntungin gue doang. Gue juga pernah mikir kek "kebahagiaan itu kita yang ngatur sendiri" tapi tulisan lo bikin gue mandang dari sudut pandang yang lain meskipun topik yang gue pikirin juga sama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hoho, bisa baca hangul kan? 고마워!🖤

      Hapus
  5. Sumpah kerongkongan gw sakit bacanya 😢, bnr2 sesedih itu kyk baca sesuatu yang pengen lo suarakan tanpa lo minta .. semua manusia itu emg aktor dlm hidup nya msg2 kita gabisa trs2an minta dia jadi pemeran yang selalu ada buat kita ... walaupun kdg mereka plg kita butuhin pun itu ttp gabisa jadi alesan kita buat anggep dia gak ada untuk kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih udah bersedia baca dan kasih respon yang bikin gue makin semangat nulis🖤🖤

      Hapus
    2. Lo harus semangatt nulis si din, bakat lo hrd dikembangkan

      Hapus
  6. Hai. Kadang gue lagi ada saat di mana lagi ngerasain "kok orang ini gak peduli sama sekali tentang kebahagiaan gue?", terus gue selalu kepikiran tulisan ini. Makasih, ya. Memang kita semua berhak bahagia tanpa orang lain :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. blog ini selalu terbuka lebar untuk siapapun, kok! makasih udah balik lagi ke sini:))

      Hapus
  7. Cukup menginspirasi dan menghibur, terutama buat orang yang ngerasainnya, disini kita belajar bahwa setiap orang memiliki permasalahan sendiri dan kita tidak bisa memaksa orang itu selalu kita jadikan tempat buat bersandar, tapi perlu diingat kalau ada aja orang baik yang selalu ingin membantu orang lain mau bagaimanapun caranya karena bagi dia itu merupakan sumber kebahagiaannya dia, dan juga pesan dari sini, carilah teman yang benar benar mengerti kita dan selalu bisa mendampingi kita baik seneng maupun susah karena orang yang seperti itu merupakan sebenar-benarnya teman. Semangat terus din nulisnya !!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. WKWKWK BENERAN KOMEN DONG. PANJANG DAN BAGUS PULA. terimakasyii nopal🖤🙏

      Hapus
    2. ya iyalah gw klo ngasih sesuatu ga pernah setengah setengah, udah pasti selalu sepenuh hati

      Hapus
  8. waw ini yang paling awal bangettt, dan kualitas tulisan nyaa mmg sudah jempolaaann. love bangett banyak reminder nyaa, banyakk yang bikin jadi bukaa mataa jadi bisa liat sudut pandang. dunia kecil dinda yang satu ini memang mantapp. kalau gak sibukk ceritaaa lagii ya ndaaa ceritain pandangan lo lagii soal duniaa. love you banyak2

    BalasHapus
  9. tolonggg, gue senyum-senyum gajelas baca kalimat 'dunia kecil dinda' :""

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memori Baik dari Masa Putih Abu-Abu

Jernih

Am I Good Enough?